LAPORAN ALDEHID DAN KETON

0

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

PERCOBAAN V

ALDEHID DAN KETON

OLEH

NAMA                               SARTINI

NIM                                    :  F1C1 11 046

KELOMPOK                    :  III

ASISTEN                           RIMA MELATI

 

 

LABORATORIUM KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2012

 

ALDEHID DAN KETON

  1. A.    TUJUAN PERCOBAAN

Adapun tujuan dari percobaan ini antara lain :

  1. Mempelajari dan memperkenalkan salah satu metode identifikasi senyawa berdasarkan perbedaan gugus fungsi.
  2. Memberi pemahaman identifikasi secara kimia senyawa golongan aldehid dan keton.
  1. B.     LANDASAN TEORI

Aldehid dan keton merupakan dua dari sekian banyak kelompok senyawa organik yang mengandung gugus karbonil. Suatu keton menghasilkan dua gugus alkil yang terikat pada karbon karbonilnya. Gugus lain dalam suatu aldehid dapat berupa alkil, aril atau H. Aldehid dan keton lazim terdapat dalam system mahluk hidup. Banyak aldehid dan keton mempunyai bau khas, yang membedakannya umumnya aldehid berbau merangsang dan keton berbau harum (Fessenden, 1986).

Aldehid dan keton bereaksi dengan alkohol membentuk masing-masing heniasetal dan hemiketal. Karena monosakarida mempunyai baik, gugus aldehid atau keton ditambah gugus alkohol, maka pembentukan hemiasetal atau hemiketal dapat terjadi didalam untuk menghasilkan suatu struktur cincin atau lingkaran karena adanya tegangan sudut ikatan struktur cincin beranggotakan 5 dan 6 lebih menguntungkan bagi gula (Sulaiman, 1995).

Senyawa aldehid, keton dan ester mengalami reaksi pada gugus karbonil. Gugus karbonil bersifat polar dan memiliki orbital hibrida sp2 sehingga ketiga atom yang terikat pada atom karbon terletak pada bidang datar dengan sudut ikatan 120°. Ikatan rangkap karbon-oksigen pada gugus karbon terdiri atas satu ikatan σ dan satu ikatan π. Ikatan σ adalah hasil tumpang tindih satu orbital sp2 atom karbon dengan satu orbital p atom oksigen. Sedangkan ikatan π adalah hasil tumpang tindih orbital p atom karbon dengan orbital p yang lain dari oksigen. Dua orbital sp2 lainnya dari atom karbon digunakan untuk mengikat atom lain.atom oksigen gugus karbonil masih memiliki dua orbital dan terisi dua buah elektron, kedua buah elektron ini adalah orbital 2s dan 2p (Katja, 2004).

Minyak atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil) biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Salah satu contoh minyak atsiri adalah minyak melati. Kandungan minyak atsiri dalam bunga melati merupakan komoditi yang dapat dikategorikan komoditi eksklusif. Karena dalam 1 liter absolut bunga melati dapat mencapai harga 30.000.000 rupiah. Namun, untuk memperoleh bahan baku minyak melati sangatlah mahal. Akibatnya, banyak produsen yang melakukan pemalsuan minyak atsiri khususnya minyak melati dengan menambahkan berbagai macam bahan kimia sebagai campuran untuk memperoleh minyak melati campuran (Wahyu, 2011).

Konsumsi alkohol terus menerus dapat mengakibatkan penyakit alkoholik, yang dapat diketahui lebih awal dengan penentuan biomarker-biomarker dari alkohol. Salah satu biomarker alkohol adalah enzim. Enzim yang digunakan untuk mengoksidasi etanol adalah aldehid dehidrogenase (ALDH). Bila ALDH tidak cukup tersedia maka asetaldehid yang bersifat toksik sebagai hasil oksidasi etanol tidak dapat mengalami metabolisme yang sempurna. Alkohol (etanol) yang diminum dapat mengalami reaksi oksidasi menjadi asetaldehid oleh enzim alcohol dehidrogenase (ADH) dan selanjutnya dioksidasi lagi menjadi asam asetat oleh aldehid dehidrogenase (ALDH). Akumulasi asetaldehid dapat menyebabkan berbagai penyakit hati                    (Suaniti, et al., 2011).

  1. C.      ALAT DAN BAHAN
    1. Alat

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :

–       Tabung reaksi

–       Pipet tetes

–       Rak tabung

–       Gelas kimia

–       Elektromental

  1. Bahan

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :

–       Formalin                                         –   Pereaksi Benedict

–       Larutan glukosa                              –   Pereaksi Schiff

–       Aseton                                            –   Pereaksi Fehling

  1. D.      PROSEDUR KERJA
  2. Uji  benedict

–    Tabung 1      : larutan tetap berwarna merah

–    Tabung 2      : merah menjadi ungu

–    Tabung 3      : larutan tetap berwarna merah

1 ml Pereaksi Schiff

–    ditambahkan masing-masing 5-10 tetes larutan glukosa untuk tabung 1, formalin untuk tabung 2, dan aseton untuk tabung 3.

–    dikocok sampai homogen

–    diamati perubahan yang nampak

–    dimasukkan masing masing ke dalam   tabung reaksi 1, 2, dan 3

 

 

 

 

 

 

  1. Uji  fehling

1 ml Pereaksi Fehling A+B

–    ditambahkan masing-masing 5-10 tetes larutan glukosa untuk tabung 1, formalin untuk tabung 2, dan aseton untuk tabung 3.

–    dipanaskan

–    diamati perubahan yang nampak

–    Tabung 1      : biru menjadi merah dan

terdapat endapan merah bata

–    Tabung 2      : biru menjadi abu-abu dan

terdapat endapan merah bata

–    Tabung 3      : terbentuk dua lapisan

(bening dan biru)

–    dimasukkan masing masing ke dalam   tabung reaksi 1, 2, dan 3

 

 

 

 

 

 

  1. Uji  benedict

1 ml Pereaksi Benedict

–    ditambahkan masing-masing 5-10 tetes larutan glukosa untuk tabung 1, formalin untuk tabung 2, dan aseton untuk tabung 3.

–    dipanaskan

–    diamati perubahan yang nampak

–    Tabung 1      : biru dan terdapat endapan

merah bata

–    Tabung 2      : larutan tetap berwarna biru

–    Tabung 3      : biru dan terdapat endapan

biru tua

–    dimasukkan masing masing ke dalam   tabung reaksi 1, 2, dan 3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. E.       DATA PENGAMATAN

 

  1. Uji Schiff

No

Perlakuan

Hasil Pengamatan

Sebelum Pemanasan

Sesudah Pemanasan

Pereaksi schiff

+ formalin

Pereaksi schiff

+ tetes glukosa

Pereaksi schiff

+ aseton

Larutan berwarna merah

Larutan berwarna ungu

Larutan berwarna merah

Larutan tetap (merah)

Larutan berwarna merah

Larutan tetap (merah)

  1. Uji Fehling

No

Perlakuan

Hasil Pengamatan

Sebelum Pemanasan

Sesudah Pemanasan

1.

2.

3.

Fehling A + fehling B + formalin

Fehling A + fehling B + glukosa

Fehling A + fehling B + aseton

Larutan berwarna biru

Larutan biru pekat

Larutan berwarna biru

Larutan tetap (biru)

Larutan berwarna biru dan terdapat dua lapisan

  1. Atas : bening
  2. Bawah : biru pekat
Merah bata dan terdapat endapan merah bata

Abu-abu dan terbentuk endapan merah bata

Larutan berwarna biru tua

Keterangan dari kiri ke kanan :

  1. Fehling + glukosa
  2. Fehling + formalin
  3. Fehling + aseton

Gambar hasil pengamatan terhadap uji fehling

  1. Uji Benedict

No

Perlakuan

Hasil Pengamatan

Sebelum Pemanasan

Sesudah Pemanasan

1.

2.

3.

Pereaksi benedict

+ formalin

Pereaksi benedict

+ glukosa

Pereaksi benedict

+ aseton

Larutan berwarna biru

Larutan berwarna biru

Larutan berwarna biru

Larutan tetap berwarna biru

Terbentuk endapan merah bata

Larutan berwarna biru dan terdapat endapan biru tua

Keterangan dari kiri ke kanan :

  1. Benedict + formalin
  2. Benedict + glukosa
  3. Benedict + aseton

Gambar hasil pengamatan terhadap uji fehling

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. F.     PEMBAHASAN

Hal yang membedakan Aldehid dengan keton yaitu kemampuan kedua senyawa ini apabila dioksidasi.  Alhedid dan keton adalah senyawa-senyawa yang mengandung gugus-gugus penting di dalam kimia oragnik. Secara struktural, aldehid dan keton dibedakan oleh substituen pada R’, begitu pula dengan ester dan asam karboksilat

Sifat-sifat aldehid dan keton hampir mirip satu sama lain. Namun, karena perbedaan gugus yang terikat pada gugus karbonil antara aldehid dan keton maka menimbulkan adanya perbedaan sifat kimia yang paling menonjol antara keduanya, yaitu aldehid cukup mudah teroksidasi sedangkan keton sulit dan aldehid lebih reaktif dari pada keton terhadap adisi nukleofilik, yang mana reaksi ini merupakan karakteristik terhadap gugus karbonil.

Pada percobaan ini, dilakukan untuk mengidentifaksi senyawa berdasarkan perbedaan gugus fungsi dan mengidentifikasi secara kimia senyawa golongan aldehid dan keton pada uji schiff, benedict, dan fehling. Untuk dapat membandingkan senyawa golongan aldehid dan keton digunakan bahan yang sama yaitu, formalin, glukosa, dan aseton. Pereaksi schiff merupakan larutan dari fuchsin asam di dalam air yang telah didekolorisasi oleh gas SO2. Komposisinya fuchsin, Na2S, 500 mL air dan HCl. Digunakan untuk menguji aldehid. Pereaksi  fehling merupakan pencampuran larutan fehling A dan fehling B. Dimana fehling A adalah larutan CuSO4, sedangkan fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan kalium natrium tartrat. Pereaksi benedict merupakan larutan yang mengandung Cuprisulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat. Jika direaksikan dengan aldehid dan dipanaskan akan dihasilkan Cu2O.

Pada perlakuan uji schiff, dimana warna pada larutan schiff berwarna merah kemudian direaksikan dengan formalin dalam larutan menghasilkan warna ungu. Perubahan warna tersebut menunjukkan adanya senyawa aldehid pada larutan. Ketika pereaksi fehling direaksikan dengan glukosa larutan tetap berwarna merah. Begitupun dengan aseton yang warna larutannya tetap warna merah. Hal ini menunjukkan bahwa pada glukosa dan aseton tidak terkandung senyawa aldehid melainkan senyawa keton. Namun, secara teori larutan schiff direaksikan dengan glukosa warnanya berubah menjadi merah keungu-unguan yang artinya senyawa glukosa merupakan gugus aldehid.

Pada uji fehling digunakan larutan fehling A dan fehling B. Dimana fehling A adalah larutan CuSO4, sedangkan fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan kalium natrium tartrat. Pereksi Fehling dibuat dengan mencampurkan kedua larutan tersebut, sehingga diperoleh suatu larutan yang berwarna biru tua. Dalam pereaksi Fehling, ion Cu2+ terdapat sebagai ion kompleks. Dari hasil pengamatan ini didapatkan antara pencampuran fehling dengan formalin biru pekat dan sesudah pemanasan berubah menghasilkan endapan merah, hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa didalam pencampuran larutan tersebut terdapat senyawa aldehid. Hal ini disebabkan karena aldehid mampu mereduksi ion tembaga (II) menjadi tembaga (I) oksida. Ketika pencampuran pencampuran dengan aseton terdapat dua lapisan yaitu bening pada lapisan atas dan biru pada lapisan bawah. Sesudah pemanasan warna berubah menjadi biru tua. Hal ini sesuai dengan teori karena, aseton merupakan gugus keton. Pencampuran pereaksi fehling dengan glukosa warna yang dihasilkan tetap biru dan sesudah pemanasan berubah menjadi merah dengan terdapat endapan merah bata pada larutan. Hal ini bertentangan dengan teori karena pencampuran antara pereaksi fehling dengan glukosa menghasilkan dua lapisan warna seperti pada pencampuran dengan aseton dan setelah pemanasan tidak terdapat endapan merah bata. Kesalahan ini dikarenakan glukosa tidak teroksidasi dengan pereaksi fehling.

Pada uji benedict, jika benedict dipanaskan bersama larutan aldehid akan terjadi oksidasi menjadi asam karboksilat. Benedict akan mengalami reduksi menjadi Cu2O yang mengendap pada bagian bawah tabung karena larutan benedict terdiri atas larutan tembaga sulfat (CuSO4), Natrium karbonat (Na2SO3 ), dan Natrium sitrat. Pada pencampuran pereaksi benedict dengan formalin larutan tidak mengalami pembentukan endapan setelah dipanaskan. Hal ini bertentangan dengan teori karena bila dipanaskan bersama senyawa aldehid akan terjadi oksidasi menjadi asam karboksilat, sedang pereaksi benedict akan mengalami reduksi Cu2O yang mengendap pada bagian bawah tabung reaksi. Ketika pencampuran dengan glukosa terjadi perubahan warna menjadi merah dan terdapat endapan merah bata pada larutan tersebut. Hal ini sesuai dengan teori karena glukosa teroksidasi dengan pereaksi benedict sehingga senyawa ini termaksud dalam gugus aldehid. Sedangkan pada pencampuran dengan aseton, larutan tidak terjadi reaksi karena aseton tidak bisa teroksidasi dengan pereaksi benedict.

  1. G.      KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa :

  1. Perbedaan senyawa aldehid dan keton di tinjau dari segi gugus fungsinya adalah aldehid memiliki sekurang-kurangnya satu atom hidrogen yang terikat pada atom karbonilnya.  Sedangkan keton memiliki dua gugus alkil yang terikat pada karbonilnya.
  2. Aldehid mampu bereaksi dengan pereaksi fehling dengan baik, hal ini di tunjukan oleh adanya endapan yang terbentuk.  Sedangkan keton tidak bereaksi dengan baik terhadap pereaksi benedict, fehling maupun Schiff,  hal ini karena keton tidak mampu teroksidasi terhadap pereaksi yang telah diberikan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Fessenden, Ralp J dan Fessenden, Joan S., 1986, Kimia Organik Jilid I, Erlangga, Jakarta.

Katja, D.G., 2004, “Sintesis Alkohol Dari Senyawa Aldehida, Keton dan Ester”,

Jurusan Kimia, FMIPA UNSRAT, Manado.

Kurniawan, Wahyu , 2011, “Deteksi Adanya Pemalsuan Minyak Melati Dengan Menguji Putaran Optik Menggunakan Polimeter WXG-4”, FakultasTehnik Universitas Ponegoro, Semarang.

Suaniti, N.M . A.A., Gede Sudewa Djelantik, I Ketut Suastika, dan I Nyoman Mantik Astawa,  2011, “Aldehid Dehidrogenase Dalam Tikus Wistar Sebagai Biomarker  Awal Konsumsi Alkohol Secara Akut”, Jurusan Kimia FMIPA UNUD, Kampus Bukit Jimbara, Bandung.

Sulaiman, A.H., 1995, Kimia Anorganik, USU Press: Medan

TUGAS SETELAH PRAKTIKUM

  1. Tuliskan reaksi-reaksi yang terjadi dari hasil percobaan ini !
  2. Mengapa aldehid lebih mudah teroksidasi dibandingkan keton ?
  3. Mengapa aldehid lebih reaktif terhadap reaksi adisi nuleofilik dibandingkan dengan keton ?

JAWAB

  1. Reaksi-reaksi yang terjadi
  • Reaksi aldehida dengan pereaksi schiff

  • Reaksi aldehida dengan pereaksi fehling menghasilkan endapan merah bata dari Cu2O.

+ Cu2+ + NaOH                   H-COONa + Cu2O   + 2H+

  • Reaksi aldehida dengan pereaksi benedict

+ Cu2+ + H2O + Na+                           H-COONa + Cu2O   + 2H+

  1. Aldehid lebih mudah teroksidasi dibandingkan dengan keton karena keberadaan atom hidrogen yang terikat pada ikatan rangkap C=O dalam aldehid sedangkan pada keton tidak ditemukan hidrogen seperti ini.

Keberadaan atom hidrogen tersebut menjadikan aldehid sangat mudah teroksidasi. Atau dengan kata lain, aldehid adalah agen pereduksi yang kuat. Karena keton tidak memiliki atom hidrogen istimewa ini, maka keton sangat sulit dioksidasi.

  1. Aldehid lebih reaktif terhadap reaksi adisi nukleofilik dibandingkan dengan keton karena salah satu tangan rantai karbon pada aldehid mengikat atom hidrogen sehingga memiliki rantai atom karbon yang pendek dibandingkan dengan keton yang kedua tangan atom karbonnya mengikat gugus alkil. Sehingga dari struktur senyawa aldehid yang memiliki rantai atom karbon yang pendek mengakibatkan aldehid mudah bereaksi dengan reaksi adisi nukleofilik karena sedikitnya penghalang pada ruang strukturnya. Semakin mudah aldehid bereaksi maka aldehid akan semakin reaktif. Sedangkan keton memiliki rantai atom karbon yang panjang sehingga mengakibatkan sulitnya keton bereaksi dengan reaksi adisi nukleofilik karena banyaknya penghalang pada ruang strukturnya. Oleh karena itu, keton bersifat tidak reaktif.

CEWEK DALAM ILMU KIMIA

0

Cewe dalam Ilmu Kimia: Gugus Fungsi

Alkane

Cewe yang ‘mudah terbakar’. Seperti gas propane dalam elpiji yang mempunyai ‘semangat’ yang berapi-api agar suatu masakan matang, dia memiliki semangat ya
ng berapi-api dalam mengejar cita-cita dan harapannya agar menjadi ‘matang’, agar kelak menjadi 
orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.
 
 
Alkene

Cewe yang mudah membentuk ‘polimer’. Seperti ethylene (ethene) yang membentuk polymer polyethylene (bahan baku plastik) yang bermanfaat bagi masyarakat, dia sangat mudah untuk berinteraksi, berbagi, dan bersahabat dengan sesama manusia, dan mampu membentuk suatu kelompok sosial yang bermanfaat bagi banyak orang.
 
 
Alkyne
 

Cewe yang ‘bersuhu sangat tinggi’. Seperti gas acetylene (ethyne) yang digunakan untuk pengelasan (penyambungan logam) disebabkan suhu nyala apinya yang sangat tinggi, dia mempunyai semangat yang berapi-api dalam menyatukan perbedaan yang terjadi, dan menciptakan hubungan yang erat antar sesama manusia.
 
 
Alcohol

Cewe yang ‘addicting’. Seperti ethanol yang banyak terdapat dalam minuman beralkohol yang menyebabkan kecanduan, dia memiliki kepribadian yang sangat menarik, sehingga orang-orang menjadi ‘kecanduan’ untuk berinteraksi dengannya.
 
 
Aldehyde

Cewe yang ‘mengawetkan’. Seperti formaldehyde (formalin) yang digunakan untuk mengawetkan mayat, dia adalah tipikal seorang Cewe yang setia, mampu ‘mengawetkan’ rasa sayang dia kepada orang yang dicintainya, untuk seumur hidupnya.
 
 
Ketone

Cewe yang dapat ‘melarutkan’. Seperti acetone yang berfungsi sebagai pelarut, dia mampu ‘larut’ dalam berbagai kondisi, dimana dia adalah sosok yang patuh, dia mampu ‘larut’ dengan suasana dan memiliki rasa simpati dan empati yang tinggi; dia sangat mudah mengerti kesulitan orang lain dan peka sosial.
 
 
Ether

Cewe yang ‘membius’. Seperti diethyl ether yang berfungsi sebagai anestetik (obat bius) dalam pembedahan, dia mampu ‘membius’ orang-orang di sekitarnya dengan kebahagiaan dan harapan, meskipun orang-orang tersebut mungkin sedang dalam penderitaan.
 
 
Ester
Cewe yang bersifat sebagai ‘esens’. Seperti sejumlah ester yang digunakan dalam industri makanan sebagai perisa artifisial, dia mampu ‘memberi rasa’ bagi kehidupan seseorang atau sebagian orang yang ‘hambar’.
 
 
Carboxylic acid

Cewe yang ‘eksis’. Seperti gugus asam karboksilat yang banyak ditemukan dalam nutrisi makanan (protein, asam lemak, dll), dia menjadi sosok yang selalu siap sedia (eksis) dalam melayani kebutuhan orang lain, dan berguna bagi masyarakat. Seperti protein yang membangun sel kehidupan, dia mampu membangun ‘sel’ kebahagiaan dan cinta dalam kehidupan.

 

Sumber : http://fadey-9.blogspot.com/2009/06/cewe-dalam-ilmu-kimia-gugus-fungsi.html

 

SEJARAH ILMU KIMIA

2

Kimia (dari bahasa Arab: كيمياء, transliterasi: kimiya = perubahan benda/zat atau bahasa Yunani: χημεία, transliterasi: khemeia) adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi, struktur, dan sifat zat atau materi dari skala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Kimia juga mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu dengan tujuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik. Menurut kimia modern, sifat fisik materi umumnya ditentukan oleh struktur pada tingkat atom yang pada gilirannya ditentukan oleh gaya antaratom dan ikatan kimia.

Kimia sering disebut sebagai “ilmu andryan” karena menghubungkan berbagai ilmu lain, seperti fisika, ilmu bahan, nanoteknologi, biologi, farmasi, kedokteran, bioinformatika, dan geologi [1]. Koneksi ini timbul melalui berbagai subdisiplin yang memanfaatkan konsep-konsep dari berbagai disiplin ilmu. Sebagai contoh, kimia fisik melibatkan penerapan prinsip-prinsip fisika terhadap materi pada tingkat atom dan molekul.

Kimia berhubungan dengan interaksi materi yang dapat melibatkan dua zat atau antara materi dan energi, terutama dalam hubungannya dengan hukum pertama termodinamika. Kimia tradisional melibatkan interaksi antara zat kimia dalam reaksi kimia, yang mengubah satu atau lebih zat menjadi satu atau lebih zat lain. Kadang reaksi ini digerakkan oleh pertimbangan entalpi, seperti ketika dua zat berentalpi tinggi seperti hidrogen dan oksigen elemental bereaksi membentuk air, zat dengan entalpi lebih rendah. Reaksi kimia dapat difasilitasi dengan suatu katalis, yang umumnya merupakan zat kimia lain yang terlibat dalam media reaksi tapi tidak dikonsumsi (contohnya adalah asam sulfat yang mengkatalisasi elektrolisis air) atau fenomena immaterial (seperti radiasi elektromagnet dalam reaksi fotokimia). Kimia tradisional juga menangani analisis zat kimia, baik di dalam maupun di luar suatu reaksi, seperti dalam spektroskopi.

Semua materi normal terdiri dari atom atau komponen-komponen subatom yang membentuk atom; proton, elektron, dan neutron. Atom dapat dikombinasikan untuk menghasilkan bentuk materi yang lebih kompleks seperti ion, molekul, atau kristal. Struktur dunia yang kita jalani sehari-hari dan sifat materi yang berinteraksi dengan kita ditentukan oleh sifat zat-zat kimia dan interaksi antar mereka. Baja lebih keras dari besi karena atom-atomnya terikat dalam struktur kristal yang lebih kaku. Kayu terbakar atau mengalami oksidasi cepat karena ia dapat bereaksi secara spontan dengan oksigen pada suatu reaksi kimia jika berada di atas suatu suhu tertentu.

Zat cenderung diklasifikasikan berdasarkan energi, fase, atau komposisi kimianya. Materi dapat digolongkan dalam 4 fase, urutan dari yang memiliki energi paling rendah adalah padat, cair, gas, dan plasma. Dari keempat jenis fase ini, fase plasma hanya dapat ditemui di luar angkasa yang berupa bintang, karena kebutuhan energinya yang teramat besar. Zat padat memiliki struktur tetap pada suhu kamar yang dapat melawan gravitasi atau gaya lemah lain yang mencoba mengubahnya. Zat cair memiliki ikatan yang terbatas, tanpa struktur, dan akan mengalir bersama gravitasi. Gas tidak memiliki ikatan dan bertindak sebagai partikel bebas. Sementara itu, plasma hanya terdiri dari ion-ion yang bergerak bebas; pasokan energi yang berlebih mencegah ion-ion ini bersatu menjadi partikel unsur. Satu cara untuk membedakan ketiga fase pertama adalah dengan volume dan bentuknya: kasarnya, zat padat memeliki volume dan bentuk yang tetap, zat cair memiliki volume tetap tapi tanpa bentuk yang tetap, sedangkan gas tidak memiliki baik volume ataupun bentuk yang tetap.

Air yang dipanaskan akan berubah fase menjadi uap air.

Air (H2O) berbentuk cairan dalam suhu kamar karena molekul-molekulnya terikat oleh gaya antarmolekul yang disebut ikatan Hidrogen. Di sisi lain, hidrogen sulfida (H2S) berbentuk gas pada suhu kamar dan tekanan standar, karena molekul-molekulnya terikat dengan interaksi dwikutub (dipole) yang lebih lemah. Ikatan hidrogen pada air memiliki cukup energi untuk mempertahankan molekul air untuk tidak terpisah satu sama lain, tapi tidak untuk mengalir, yang menjadikannya berwujud cairan dalam suhu antara 0 °C sampai 100 °C pada permukaan laut. Menurunkan suhu atau energi lebih lanjut mengizinkan organisasi bentuk yang lebih erat, menghasilkan suatu zat padat, dan melepaskan energi. Peningkatan energi akan mencairkan es walaupun suhu tidak akan berubah sampai semua es cair. Peningkatan suhu air pada gilirannya akan menyebabkannya mendidih (lihat panas penguapan) sewaktu terdapat cukup energi untuk mengatasi gaya tarik antarmolekul dan selanjutnya memungkinkan molekul untuk bergerak menjauhi satu sama lain.

Ilmuwan yang mempelajari kimia sering disebut kimiawan. Sebagian besar kimiawan melakukan spesialisasi dalam satu atau lebih subdisiplin. Kimia yang diajarkan pada sekolah menengah sering disebut “kimia umum” dan ditujukan sebagai pengantar terhadap banyak konsep-konsep dasar dan untuk memberikan pelajar alat untuk melanjutkan ke subjek lanjutannya. Banyak konsep yang dipresentasikan pada tingkat ini sering dianggap tak lengkap dan tidak akurat secara teknis. Walaupun demikian, hal tersebut merupakan alat yang luar biasa. Kimiawan secara reguler menggunakan alat dan penjelasan yang sederhana dan elegan ini dalam karya mereka, karena terbukti mampu secara akurat membuat model reaktivitas kimia yang sangat bervariasi.

Ilmu kimia secara sejarah merupakan pengembangan baru, tapi ilmu ini berakar pada alkimia yang telah dipraktikkan selama berabad-abad di seluruh dunia.

Sejarah

Akar ilmu kimia dapat dilacak hingga fenomena pembakaran. Api merupakan kekuatan mistik yang mengubah suatu zat menjadi zat lain dan karenanya merupakan perhatian utama umat manusia. Adalah api yang menuntun manusia pada penemuan besi dan gelas. Setelah emas ditemukan dan menjadi logam berharga, banyak orang yang tertarik menemukan metode yang dapat mengubah zat lain menjadi emas. Hal ini menciptakan suatu protosains yang disebut Alkimia. Alkimia dipraktikkan oleh banyak kebudayaan sepanjang sejarah dan sering mengandung campuran filsafat, mistisisme, dan protosains.

Alkimiawan menemukan banyak proses kimia yang menuntun pada pengembangan kimia modern. Seiring berjalannya sejarah, alkimiawan-alkimiawan terkemuka (terutama Abu Musa Jabir bin Hayyan dan Paracelsus) mengembangkan alkimia menjauh dari filsafat dan mistisisme dan mengembangkan pendekatan yang lebih sistematik dan ilmiah. Alkimiawan pertama yang dianggap menerapkan metode ilmiah terhadap alkimia dan membedakan kimia dan alkimia adalah Robert Boyle (1627–1691). Walaupun demikian, kimia seperti yang kita ketahui sekarang diciptakan oleh Antoine Lavoisier dengan hukum kekekalan massanya pada tahun 1783. Penemuan unsur kimia memiliki sejarah yang panjang yang mencapai puncaknya dengan diciptakannya tabel periodik unsur kimia oleh Dmitri Mendeleyev pada tahun 1869.

Penghargaan Nobel dalam Kimia yang diciptakan pada tahun 1901 memberikan gambaran bagus mengenai penemuan kimia selama 100 tahun terakhir. Pada bagian awal abad ke-20, sifat subatomik atom diungkapkan dan ilmu mekanika kuantum mulai menjelaskan sifat fisik ikatan kimia. Pada pertengahan abad ke-20, kimia telah berkembang sampai dapat memahami dan memprediksi aspek-aspek biologi yang melebar ke bidang biokimia.

Industri kimia mewakili suatu aktivitas ekonomi yang penting. Pada tahun 2004, produsen bahan kimia 50 teratas global memiliki penjualan mencapai 587 bilyun dolar AS dengan margin keuntungan 8,1% dan pengeluaran riset dan pengembangan 2,1% dari total penjualan [2].

Cabang ilmu kimia

Kimia umumnya dibagi menjadi beberapa bidang utama. Terdapat pula beberapa cabang antar-bidang dan cabang-cabang yang lebih khusus dalam kimia.

Lima Cabang Utama:

Cabang – cabang Ilmu Kimia yang merupakan tumpang-tindih satu atau lebih lima cabang utama:

Bidang lain antara lain adalah astrokimia, biologi molekular, elektrokimia, farmakologi, fitokimia, fotokimia, genetika molekular, geokimia, ilmu bahan, kimia aliran, kimia atmosfer, kimia benda padat, kimia hijau, kimia inti, kimia medisinal, kimia komputasi, kimia lingkungan, kimia organologam, kimia permukaan, kimia polimer, kimia supramolekular, nanoteknologi, petrokimia, sejarah kimia, sonokimia, teknik kimia, serta termokimia.

SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia